Belajar Finansial Dari “Rich Dad, Poor Dad”

0
243

Jakarta – Suara Ekonomi.

Semua orang pasti menginginkan finansial yang baik dalam kehidupannya. Memiliki banyak uang untuk dapat memenuhi semua kebutuhan dan keinginannya. Memang uang bukanlah segalanya, tetapi segalanya membutuhkan uang, bukan? Terlagi dengan hasrat manusia yang tak pernah puas. Tapi, bagaimana cara memiliki financial yang baik itu? Serta bagaimana pula cara meraihnya.

Robert T Kiyosaki, penulis buku Rich dad, poor dad berbagi pengalamannya selama ia meraih kesuksesan secara finansial. Di dalam bukunya ia memaparkan semua hal-hal tentang apa yang tidak diajarkan dibangku sekolah. Sekolah formal tidak mendidik seseorang untuk mempunyai kecerdasan financial yang dibutuhkannya setelah lulus nanti, guna menghadapi tantangan dalam kehidupan sehari-hari. Siswa yang dididik di sekolah formal cenderung untuk menjadi karyawan profesional yang kehilangan waktu sampai hampir akhir hayatnya berjibaku dengan kesibukan kerja dan tidak mempunyai kebebasan finansial.

Robert dibesarkan dalam sebuah keluarga dimana ayah kandungnya adalah seorang yang berpendidikan tinggi dan intelegen. Beliau memiliki gelar Ph.D. serta menyelesaikan 4 tahun pendidikan sarjananya hanya dalam waktu kurang dari 2 tahun. Kemudian ayahnya melanjutkan studi ke Stanford University, University of Chicago dan Northwestern University. Pendidikan tersebut dengan beasiswa penuh, namun ayahnya selalu merasa tidak cukup dengan gaji yang diperolehnya. Di buku ini, Robert menyebutnya ayah miskin (poor dad). Seiring berjalannya waktu ia dipertemukan dengan ayah dari temannya, yang merupakan seorang pengusaha yang memilik banyak bisnis, pekerja keras dan kekayaannya selalu bertambah dari masa ke masa, meskipun ia tidak pernah menyelesaikan pendidiakn SMP nya. Ia menyebuthnya, ayah kaya (rich dad).

Cover belakang novel Rich Dad, Poor Dad

Kedua ayah Kiyosaki ini memiliki cara pandang yang sangat berbeda terkait uang, pengelolaan, dan tujuan finansialnya. Ayah miskinnya mengatakan bahwa mencintai uang adalah sumber dari segala setan, sedangkan ayah kayanya mengatakan bahwa kehabisan dan kekurangan uang adalah sumber dari setan. Dari keduanya pula, Robert mendapati pengetahuan finansial secara berbeda. Ayah miskinnya selalu menekankan anak-anaknya untuk giat bersekolah supaya bisa mendapatkan nilai yang bagus di sekolah dan pekerjaan yang terjamin di masa mendatang. Dengan kata lain ayah miskin menyarankan agar anaknya menjadi pegawai yang berpenghasilan tinggi, namun tetap bergantung kepada gaji sepanjang hidupnya. Berbeda dengan saran ayah kaya, ia mengajarkan agar anak-anaknya untuk mengambil risiko membangun usaha dan menjadi investor setelah mereka lulus sekolah.

Ayah kaya mengajarkannya untuk ‘melek finansial’, yang berarti kemampuan untuk membaca dan memahami hal-hal yang berhubungan dengan masalah finansial/keuangan. Dibukunya, ia menjelaskan bahwa aturan pertama jika ingin menjadi kaya adalah “anda harus mengetahui perbedaan antara aset dan liabilitas, dan membeli aset”. Ia juga menjelaskan beberapa kategori aset riil dalam dunia nya. Rahasia berikutnya, “uruslah bisnismu sendiri”. Akan tetapi, masih ada orang yang melek secara finansial tidak bisa mengembangkan kolom asset yang berlimpah, dikarenakan lima alasan seperti : ketakutan, sinisme, kemalasan, kebisaan buruk dan arogan.

Dibuku yang bergenre Non-fiksi, Self-help book ini banyak sekali yang dapat kita petik ilmunya. Rekan rich dad, poor dad, Sharon Lechter, C.P.A., mengatakan “saya mencintai anak-anak saya dan ingin agar mereka mendapatkan pendidikan sebaik mungkin! Sekolah tradisional, meskipun sangat penting, tidak lagi memadai. Kita semua harus mengerti soal uang dan bagaimana kerjanya.”

Zig ziglar penulis dan penceramah yang terkenal di dunia juga mengatakan, “bila anda ingin sukses secara finansial, anda harus membaca rich dad, poor dad. Semua yang dipaparkan masuk akal dan akan menjamin masa depan finansial anda.”

Reporter: Dita Aulia Utami & Ruth Melisa

Editor : Rizal Arbianto