Jakarta – Suara Ekonomi

Siapa yang tidak mengenal Tik Tok, apikasi yang sedang fenomenal saat ini. Banyak pro dan kontra mengenai aplikasi tersebut. Sebagian besar masyarakat Indonesia menganggap bahwa aplikasi tersebut memberikan dampak yang buruk bagi anak-anak maupun remaja. Dengan banyaknya laporan mengenai aplikasi ini, pemerintah mengambil langkah untuk memblokir aplikasi tersebut. Dimana pada Selasa, 3 Juli 2018 pemerintah resmi memblokir aplikasi Tik Tok tersebut.

Masyarakat menyambutnya dengan antusias mengenai adanya pemblokiran ini. “Saya sangat setuju dengan adanya keputusan tersebut. Karena saya merasa terganggu dengan mereka yang bermain Tik Tok dan mempostingnya di aplikasi Instagram. Menurut saya tidak ada manfaatnya sama sekali dengan membuat konten seperti itu”. Ungkap Benito Ramadhan Mahasiswa Universitas Jayabaya. Namun tidak selesai sampai disitu, ternyata ada juga pihak yang kurang setuju dengan adanya pemblokiran ini.

“Sebenarnya tidak usah sampai diblokir, karena dengan adanya pemblokiran tersebut tidak akan menyelesaikan masalah juga. Saya yakin anak-anak zaman sekarang sudah pintar mengenai teknologi. Menurut pendapat saya, bagaimana sikap dan bagaimana penggunaannya dari para pengguna si aplikasi tersebut lah yang salah”. Ujar Joselino Rama Mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan.

Karena telah membuat para pengguna Tik Tok kecewa dengan adanya pemblokiran tersebut. Akhirnya pada 4 Juli 2018 Tik Tok resmi dibuka kembali dengan banyak pertimbangan. Antara pihak Tik Tok dan Menkominfo pun melakukan pertemuan untuk diskusi mengenai konten-konten apa saya yang boleh digunakan. Seperti memberikan filter kepada aplikasi tersebut. Aplikasi Tik Tok pada saat itu boleh digunakan oleh anak – anak yang berumur minimal 12 tahun. Namun, saat ini aplikasi tiktok hanya bisa digunakan oleh anak – anak berumur minimal 13 tahun atau 15 tahun.

Menkominfo meminta komitmen penyedia platform Tik Tok untuk membersihkan konten negatif dan filtering. “Saat ini pihaknya telah menyiapkan program bersama dengan sejumlah NGO untuk membuat konten khusus untuk anak – anak Indonesia. Dan memastikan pihaknya akan menjadikan Tik Tok sebagai platform yang lebih baik. Serta akan meningkatkan relasi dengan stakeholders di Indoneisa dan bermanfaat bagi generasi muda Indonesia ” Ucap Kelly selaku CEO Bytemond yang dikutip dari laman website Kominfo.

Reporter: Anita Edenia

Editor: Tri Agustina

BAGIKAN
Berita sebelumyaHasil Quick Count PILKADA 2018 oleh Poltracking Indonesia
Berita berikutnyaHanya di Indonesia
LPMSE atau Lembaga Pers Mahasiswa Suara Ekonomi merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa yang lahir sejak 1986 di Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Pancasila Jakarta. Produk LPMSE : Majalah, Buletin, Koran, Tabloid, Lembar Pemberitahuan, Mading, MyCampus, dan lainnya dan kini Majalah Online di www.suaraekonomi.com