Gadis Berkerudung Batavia

0
160

Tentang rindu, entahlah kau hanya kepingan waktu

Datang hanya sesekali kemudian pulang tanpa jejak

Siang ku kejar ceritamu hingga tak pernah menemukan sebuah tanda baca

Malam pun terlewatkan sendu untuk menyapa

 

Cinta telah mengajarkan perjalanan arti kesepian seseorang

Aku mulai khawatir diterjang makna memahami bahasa filsafat itu

Ketika kau lepas untuk terbang

Aku tergesa seakan tenggelam

 

Wahai Dara Manis,

Rasanya ingin ku mengenal hati kemudian menyatukan budaya

Keturunan  M.H Thamrin, Ali Sadikin, serta Benyamin S yang teramat ku kagumi

Kau serangkaian bayang – bayangku yang hilang ketika cahaya bermain mesra

 

Sanguinis terindah di duniaku

Genggamlah kedua tanganku seraya berkata

Akan kau temui hatimu di pelabuhan jiwaku

Pelabuhan akhir dari pertanyaan rindu yang tak sempat terbalas

 

 

Akankah kau meminta pertimbangan salju dari Kota Rottertdam ?

Untuk sekedar memastikan apakah darahku merah dan rusukku putih ?

 

“Kau akan temui jika kedua bola matamu merajut mimpi di pelipis penglihatanku,”

Jawabku pada keresahan sambil menikmati minuman manis bercelup

“Biarkan aku berenang di pikiran dan bermain kata pada hati putihmu”

Jawabmu pada kegelisahan setelah habis hiruk pikuk kota

 

Kau mungkin hanya peduli pada hari penuh keindahan

Setelah itu lupa akan segenggam bulan  yang berseri – seri

Sulit bagiku meminta Tuhan sejenak menghentikan waktu

Meski begitu, penantian tetap satu hal ketidakmungkinan

 

 

Bogor, 10 November 2016

Muhammad Irfan Fauzi