Jakarta – Suara Ekonomi

Indonesia kini tengah dibayangi dengan resesi ekonomi, akibat terpengaruh dari beberapa dampak. Salah satunya, yaitu dengan adanya wabah pandemi Covid-19 belakangan ini. Tak hanya perekonomian Tanah Air saja yang terkena imbasnya, melainkan seluruh dunia pun ikut merasakannya.

Menurut data terbaru, Amerika Serikat (AS) saat ini sudah dinyatakan memasuki jurang resesi. Ekonomi AS mengalami kontraksi atau minus 32,9 persen secara tahunan pada kuartal II 2020. Hal itu, merupakan penurunan terburuk sepanjang sejarah bagi AS. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa ekonomi Indonesia pada kuartal II 2020 minus 5,32%. Akan hal ini, banyak yang menilai bahwa Indonesia juga akan tergelincir dalam jurang resesi.

Perekonomian Indonesia mengalami penurunan drastis, karena beberapa penghasilan negara tidak berjalan sehingga pendapatan negara berkurang. Tak hanya dirasakan oleh negara saja, tetapi para pengusaha pun ikut terkena dampak Covid-19 tersebut. Para pengusaha mengalami kerugian yang amat sangat menurun. Hal ini, terjadi karena para pengusaha ada yang tidak menghasilkan atas apa yang ia jual. Kemudian ada beberapa sebab yang menjadi kendala, yaitu tidak adanya bahan baku. Lantaran, disebabkan karena produk yang dijadikan bahan untuk memproduksi telah diberhentikan sementara.

Ecky Awal Mucharam selaku Anggota DPR RI Komisi XI. (Sumber : jabarekspres.com)

Ecky menuturkan bahwa, resesi ekonomi dapat dilihat dari Produk Domestik Bruto (PDB) pengeluaran. Maka, ekspor dan impor menjadi komponen yang paling signifikan terpengaruh. “Kontraksi impor yang lebih dalam dibandingkan dengan ekspor membawa dampak adanya surplus neraca perdagangan,” urainya yang dikutip dari laman magelangekspres.com. Akibatnya, berdampak juga kepada para pekerja yang saat ini tidak dapat bekerja seperti biasanya. Pemerintah saat ini sedang memikirkan jalan keluar terbaik, agar perekonomian di Indonesia lekas pulih.

Terlebih untuk para Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang memang penghasilannya hanya berasal dari situ saja. Para anggota UMKM berharap kondisi perekonomiannya kembali normal, agar bisa menyambung hidup dari usahanya.  “Saya sangat yakin jika stimulus itu diperhatikan kepada perekonomian rakyat, pedagang kecil, pasar, UMKM akan mampu meningkatkan perekonomian,” ujar Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri yang dikutip dari laman okezone.com. Memang perekonomian yang sedang mengguncang dunia belakangan ini, terutama Indonesia sangatlah tidak mudah. Akan hal itu, perlu strategi yang baik untuk mengatur perekonomian agar kembali normal.

Untuk mengatur perekonomian di masa New Normal seperti ini tidaklah mudah. Pemerintah harus memerlukan strategi yang kuat untuk menjalankan perekonomian di era New Normal. Strategi yang dibuat bukanlah main-main, sebab menyangkut perekonomian UMKM serta negara. Bukan pemerintah saja yang harus bergerak, tetapi para UMKM serta masyarakat lainnya harus memikirkannya juga. Dengan demikian, perekonomian Indonesia pun akan kembali stabil di era New Normal ini.

Andy Nugroho selaku MRE Financial & Business Advisory. (Sumber : Kumparan.com)

Menurut Perencana Keuangan Andy Nugroho menjelaskan, saat resesi yang paling ditakutkan adalah gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Sebab, para perusahaan akan mengalami kesulitan dalam menjalankan segala aktivitas usahanya. PHK massal yang terjadi akan sangat berpengaruh terhadap daya beli masyarakat. Pasalnya, pendapatan menurun membuat masyarakat untuk menahan belanjaanya. “Paling ditakutkan sebenarnya pengurangan karyawan. Otomatis juga akan mengurangi penghasilannya, maka daya belinya juga akan berkurang,” jelasnya yang dikutip dari laman okezone.com.

Kemudian, menurut Andy dampak paling terasa adalah pada bagian pemasukan. Jika, negara mengalami resesi maka pemasukan yang diterima masyarakat akan semakin sulit. Akan hal itu, Andy menyarankan untuk mulai berhemat dari segi apa pun. Salah satunya, cara berhemat adalah mengatur pengeluaran dengan bijak. Dengan itu, uang yang dikeluarkan benar-benar digunakan untuk keperluan sehari-hari maupun pekerjaan saja.

Reporter : Arieza Rizki

Editor : Jioti Nurhaliza

LEAVE A REPLY