Kisah Hanin, Peraih Beasiswa Senmon Gakko di Jepang

0
103

Jakarta – Suara Ekonomi

Seiring perkembangan zaman, mengambil studi di luar negeri bukanlah hal yang baru lagi. Tiap tahun makin banyak siswa ataupun mahasiswa yang mencari kesempatan untuk bisa mengenyam pendidikan di luar negeri. Tujuannya tentu saja untuk menimba ilmu sembari mengenal budaya di tempat tersebut. Interaksi inilah yang menjadi salah satu pengalaman berharga untuk mereka. Dimana secara tidak langsung, dapat membuka cakrawala mengenai ilmu pengetahuan yang mereka peroleh  dan menjadi awal dari kisah hidupnya.

Namun hal yang paling krusial dialami anak kelas 12 SMA/K adalah memikirkan melanjutkan kuliah, jurusan apa dan dimana, bagaimana jika bertentangan dengan yang orang tua harapkan, masalah biaya, dan lain sebagainya. Seperti apa yang dialami oleh Mochamad Hanin, yang akrab disapa Hanin. Ia merupakan salah satu pelajar Indonesia yang berhasil mendapatkan beasiswa ke Luar Negeri. Bermula dari tawaran yang diberikan oleh SMK Bina Mandiri karena beberapa prestasi yang telah dicapainya. Yaitu, berupa seleksi program beasiswa ke Jepang dari BMPS (Badan Musyawarah Perguruan Swasta) Jawa Barat.

“Awalnya saya tidak berharap banyak mengingat persaingan yang sangat ketat dan saya pun tidak ada skill Bahasa Jepang. Waktu wawancara pun saya hanya perkenalan saja dengan menggunakan Bahasa Jepang, ” ungkap pria kelahiran 1997 tersebut.

Pada tanggal 5 Mei 2015 bersama dengan 8 anak berprestasi lainnya mereka mengikuti tes yang berupa tes kesehatan dan wawancara oleh pihak Jepang menggunakan Bahasa Jepang serta Bahasa Inggris. Selain itu, tantangan paling besar adalah mempersiapkan dokumen yang diperlukan, ada deadline yang harus dipatuhi, jadi cukup terburu-buru. Namun, meskipun cukup sulit mempersiapkan dokumen, ia merasa apa yang akan didapatkan di Jepang sangatlah worth it.

Perjuangan anak pertama dari dua bersaudara ini pun berbuah manis. Hanin terpilih bersama dua orang lainnya untuk berguru ke negeri sakura tersebut. Pada tanggal 1 Oktober 2015, tepatnya Ia bersama teman lainnya meninggalkan Indonesia selama kurang lebih 5 tahun kedepan.

Foto bersama sensei Jepang, ketika pengumuman hasil beasiswa

Sesampainya di Jepang, para peraih beasiswa tidak langsung mengenyam pendidikan di universitas. Melainkan harus melaksanakan program Bahasa di Okayama Institute of Language sebagai penunjang selama 2 tahun dan akan mendapatkan sertifikat sebagai syarat ke universitas yang akan mereka tuju. Tidak halnya dengan Hanin yang bisa lulus lebih cepat dari yang ditargetkan yaitu, sekitar 1 tahun dengan hasil yang sangat memuaskan.

Setelah lulus dari program Bahasa, pria berumur 20 tahun ini segera mengambil jalur pendidikan. Hanin berhasil memasuki Anabuki College tepatnya di Fakultas Kokka Kareji (Teknik), Jurusan Jidosha Seibi Gakka (Teknik Otomotif).

“ Saya mengambil otomotif karena skill saya dari SMK juga dari bidang yang sama. Selain itu, teknologi di sini (re: Jepang) terkenal maju serta banyak perusahaan otomotif terkenal juga dan saya ingin mendalami serta mengembangkan ilmu yang saya miliki,” jelas pria berkacamata ini.

Foto kelulusan sekolah bahasa di Okayama Institute Of Language

             Selain mengenyam pendidikan di Jepang ternyata para peraih beasiswa tersebut juga menggunakan waktu luangnya untuk bekerja paruh waktu. Negara Jepang ternyata memberikan kemudahan kepada para pelajar asing untuk mencari tambahan uang demi mencukupi kebutuhan hidup disana. Hal lainnya yang telah didapatkan Hanin yaitu memperluas koneksi, terutama mendapatkan teman-teman baru dari negara lain yang berbeda budaya, bisa mendapat pengalaman baru, belajar bahasa baru, dan belajar “bertahan hidup” di negara orang lain dengan biaya yang minim.

“Gaji dari part time lumayan jika dirupiahkan dimana sekitar 1 yen itu Rp. 188, cukup untuk biaya hidup dan ahamdulillah bisa ngirim sedikit rezeki juga ke orang tua,” ungkap Hanin.

Besar harapan Hanin agar banyak pelajar Indonesia yang  bisa  mengenyam pendidikan di luar negeri. Karena, dari sinilah ilmu-ilmu untuk memperbaiki Negara Indonesia berasal. Seperti kata pepatah “Kejarlah Ilmu Sampai ke Negeri China.”

 

Reporter: Maya Kartika

Editor: Tri Agustina