Martha Christina Tiahahu: Srikandi Muda dari Tanah Maluku

0
172

Martha Christina Tiahahu lahir pada 4 Januari 1800. Merupakan gadis yang berasal dari Desa Abubu, Pulau Nusa Laut. Ayahnya ialah Kapitan Paulus Tiahahu, sesosok pemimpin perang di wilayah Saparua.

Asal Usul dan Sosok Martha Christina Tiahahu

Paulus Tiahahu mewariskan jabatan Kapitan dari ayahnya yaitu Kapitan Tabiwakan Tiahahu. Ia berperan dalam perjuangan rakyat Maluku bersama Kapitan Pattimura.

Kapitan Paulus Tiahau menikahi seoraang wanita keturunan kapitan besar Lolohowarlau dari negeri Titawasi yang bernama Sina. Dari pernikahan ini, lahirlah seorang putri yang lalu dinamakan Martha Christina Tiahahu.

Sejak kecil Martha telah ditinggalkan ibunya, sehingga ia tidak dapat merasakan kasih sayang seorang ibu. Martha tumbuh besar dengan asuhan ayahnya seorang. Ia sering mendampingi Kapitan Paulus Tiahahu ketika sedang berpergian.

Saat sang ayah menghadiri rapat perancanaan perang ia tetap ikut mendampingimya. Di situ Martha mendapatkan cerita-cerita mengenai pertempuran dan siasat-siasat pertempuran. Karena seringnya ia terlibat dalam kegiatan itu, maka secara tidak langsung Martha telah dipersiapkan untuk ikut serta dalam perjuangan-perjuangan menghadapi penjajah Belanda.

Sebagai gadis pemberani Martha memiliki rupa dan ciri yang cukup menarik. Ia bertubuh langsing dan berkulit hitam manis beserta wajah yang cantik. Memiliki Mata hitam yang berseri-seri, pandangannya tajam serta pelipisnya menonjol. Rambutnya hitam pekat dan berombak panjang serta sering dibiarkan terurai.

Dalam pertempuran Martha membiarkan rambutnya terurai. Dia berpegang teguh pada semboyan yang ia ciptakan sendiri bahwa rambutnya tidak akan diikiat dengan rapi sebelum dicuci oleh darah-darah musuh yang dihadapinya.

Martha memiliki penampilan yang sederhana. Terdiri dari baju berlengan pendek dan sebuah kain sarung yang diikat pada pinggangnya.

Sifat kewanitaannya yang rupawan dilengkapi dengan sikap yang mengagumkan dan menantang dengan pandangan matanya yang tajam bila berhadapan dengan musuh. Martha pun memiliki sikap yang penuh kasih sayang dan patuh kepada ayahnya.

Berperang Bersama Sang Ayah

Para pejuang Maluku yang berasal dari Nusalaut berangkat ke Saparua untuk berperang melawan tentara kolonial Belanda. Pada saat itu Martha Christina Tiahahu bersama sang ayah ikut tergabung dalam pasukan pejuang Maluku yang dipimpin Kapitan Pattimura.

Mereka menggempur barisan musuh yang menguasai Pulau Saparua. Benteng Duurstede yang belokasi di sana pun mampu dikuasai oleh para pejuang.

Sebagai seorang pejuang, Martha kerap memberi semangat kepada kaum wanita lainnya untuk turut berjuang bersama kaum pria dalam menghadapi penjajah. Karena hal itu, Belanda sempat kewalahan menghadapi pasukan wanita yang ikut berjuang di medan pertempuran.

Saat banyak pejuang yang ikut berperang bersama Kapitan Pattimura di Saparua, Belanda memiliki kesempatan untuk merebut Benteng Beverwijk yang berada di Nusalaut. Kesempatan itu pun digunakan untuk mengambil alih tempat tersebut. Pada tanggal 10 Oktober 1817 Benteng Beverwijk dapat dikuasai Belanda tanpa adanya perlawanan.

Pada tanggal 11 Oktober 1817 di Saparua, pertempuran masih berkobar. Karena persediaan amunisi senjata yang kian menipis, para pejuang bergerak mundur ke pegunungan Ulath-Ouw. Saat itu meraka masih mampu melancarkan serangan-serangan kepada tentara Belanda. Hal itu membuat tentara Belanda dapat dipukul mundur. Bahkan pimpinan mereka, Richemont dapat tertambak mati oleh peluru yang ditembakkan pejuang.

Ketika Richemont tewas, Meyer menggantikan posisi Richemont untuk memimpin pasukan Belanda. Posisi tentara Belanda terkepung oleh pasukan pejuang. Martha yang ada di dalam pertempuran itu tampil gagah berani. Ia kerap memberikan kobaran semangat kepada kaum perempuan yang turut mengangkat senjata dalam perjuangan tersebut. Meyer pun tewas dalam pertempuran yang semakin sengit. Sebuah peluru menembus lehernya.

Tanggal 12 Oktober 1817, pasukan pejuang Maluku kehabisan persediaan peluru. Meraka menyerang pasukan tentara Belanda dengan melemparkan batu. Pasukan Belanda yang mulai menyadari bahwa musuhnya telah kehabisan amunisi langsung merengsek maju unutk menyerbu. Situasi ini membuat pasukan pejuang semakin terdesak.

Bersama sang ayah, Martha dan pejuang lainnya dapat ditangkap tentara Belanda. Mereka yang tertangkap diadili dan banyak yang diganjar hukuman mati, termasuk Kapiten Paulus Tiahahu, ayah Martha. Sementara itu Martha dibebaskan kerena usianya yang terbilang masih muda.

Mengetahui hal itu, Martha berusaha sebisa mungkin untuk menolong ayahnya. Ia bersedia menggantikan posisi ayahnya untuk dihukum mati. Namun usaha itu sia-sia. Martha bersama ayahnya di bawa menuju Benteng Beverwijk.

Martha selalu mendampingi ayahnya sebelum sang ayah dieksekusi pada 17 November 1817. Kapitan Paulus dieksekusi di lapangan Benteng Beverwijk. Sang algojo yang merupakan serdadu dari daerah Maluku menembaknya dengan rentetan peluru. Setelahnya tubuh Kapitan Paulus ditusuki menggunakan kelewang. Saat kegiatan itu terjadi, Martha dibawa ke dalam benteng agar tidak melihat eksekusi ayahnya.

Setelah kematian sang ayah, Martha sering mengasingkan diri ke hutan. Ia merasa begitu kehilangan yang begitu mendalam. Martha dan ayahnya memiliki hubungan yang sangat erat. Sejak kecil sesudah ibunya meninggal dunia ia tidak pernah berpisah dari ayahnya bahkan sampai ke medan tempur.

Ia melakukan pengembaraan di hutan untuk menguatkan batinnya kembali. Sejak ditinggal ayahnya, ia enggan berbicara kepada siapa saja sehingga ia berubah menjadi gadis yang pemurung.

Kondisi Martha ini terus dipantau oleh Belanda. Mereka mulai cemas dengan sikap Martha yang mulai aneh. Beredar isu bahwa Martha Christina Tiahahu menjadi gila dan dianggap berbahaya. Isu itu dianggap serius oleh Belanda. Karenanya pihak Belanda mencari dan berusaha menangkapnya.

Pada Desember 1817, Martha berhasil ditangkap bersama 39 orang lainnya. Mereka diangkut menggunakan kapal Evertzen untuk dibuang ke Pulau Jawa.

Di atas kapal, Martha melakukan aksi mogok makan. Karena aksinya tersebut, ia jatuh sakit. Saat sakit Martha tidak mau menerima segala jenis pengobatan yang diberikan. Hal ini membuat kesehatannya memburuk.

Pada 2 Januari 1818 dini hari atau dua hari sebelum hari ulang tahunnya, Martha Christina Tiahahu menghembuskan nafas terakhirnya. Jenazahnnya disemayamkan di Laut Banda dengan diiringi penghormatan militer Belanda.

Pemerintah Indonesia menetapkan Martha Christina Tiahahu sabagai pahlawan nasional pada 20 Mei 1969. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 012/TK/Tahun 1969.

Selain itu dibangun sebuah monumen untuk mendedikasikan perjuangan Martha Christina Tiahahu di Karang Panjang. Letak monumen ini tepat bersebelahan dengan kantor DPRD Provinsi maluku.

 Patung Martha Christina Tiahahu yang menghadap Laut Banda di Karang Panjang.
Sumber:
Boombastis

Di dalam monumen ini terdapat sebuah patung Martha Christina Tiahahu yang cukup besar. Patung ini berdiri tegak dan menghadap lokasi jenazah Martha disemayamkan, yaitu Laut Banda.

Pada dasar patung tersebut tertulis sebuah prasasti yang berbunyi: “Martha C. Tiahahu, mutiara Nusa Laut (Pulau), Pahlawan Nasional RI, yang berjuang untuk mengusir penjajah Belanda dari Maluku, jatuh pada Januari 2, 1818.”

Martha Christina Tiahahu, salah satu pahlawan nasional yang gugur dalam usia belia. Kisah heroiknya akan selalu dikenang sebagai perjuangan anak muda yang begitu menyayangi orang tuanya namun tak gentar menghadapi musuhnya.

Sumber:
Zacharias, L. J. H. 1981. Martha Christina Tiahahu. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Boombastis, “Martha Christina Tiahahu, Gadis Remaja yang Berperang di Garis Depan.
”Indonesia Kaya, “Persembahan Kehormatan Bagi Sang Mutiara Laut.”

Penulis: Arif Himawan

LEAVE A REPLY