Jakarta – Suara Ekonomi

Sepatu Dahlan mengisahkan tentang kehidupan Dahlan Iskan yang merupakan mantan Menteri BUMN pada periode 2011-2014. Di tengah kesibukannya menjadi menteri kala itu, ia membagi kisah hidupnya semasa kecil yang penuh dengan keterbatasan dalam sebuah novel karya Khrisna Pabichara.

Kisah ini berawal dari Desa Kebon Dalem, Magetan, Jawa Timur. Di desa ini masyarakatnya hidup dengan kondisi miskin, mayoritas penduduk bekerja sebagai buruh dan petani. Hidup miskin tidak menyurutkan niat Dahlan untuk bersekolah di Sekolah Rakyat (SR). Baginya, kemiskinan bukan halangan untuk menuntut ilmu.

Dahlan mempunyai mimpi yang sederhana, yaitu memiliki sepatu dan sepeda. Namun, mimpinya seketika musnah karena himpitan ekonomi. Tak jarang Dahlan hanya meminum teh bahkan berpuasa untuk menahan lapar.

Masa-masa terberat dalam hidupnya yaitu ketika ibunya sakit. Ia hanya hidup berdua dengan adiknya tanpa makanan sedikit pun. Pernah suatu hari, Dahlan berniat mencuri tebu milik salah seorang warga. Namun gagal karena tertangkap oleh pemiliknya. Kabar Dahlan tertangkap mencuri tebu terdengar oleh sang kakak. Lalu sang kakak berpesan kepada Dahlan “Ojo mlarat, yang penting tetap jujur!” (Kita boleh miskin harta, tapi kita tidak boleh miskin iman), kata itulah yang membuat Dahlan berniat tidak akan mencuri lagi.

Keadaan semakin berat ketika ibunya meninggal dunia akibat penyakit liver. Dahlan menyadari hidup tanpa seorang ibu bukanlah hal yang mudah. Ia berusaha untuk mengukir prestasi di sekolahnya di Tsanawiyah Takeran. Ia berhasil menjadi kapten voli dan juga terpilih menjadi pengurus Ikatan Santri Pesantren Takeran. Karena tidak memiliki sepatu, selama ini ia bermain voli tanpa alas kaki apapun. Untuk mewujudkan mimpinya memiliki sepatu, Dahlan mengumpulkan uang melalui hadiah dari kemenangannya di pertandingan voli dan juga pekerjaannya sebagai pelatih voli. Hingga akhirnya mimpi Dahlan terwujud untuk mempunyai sepatu dan sepeda.

Salah Satu Halaman pada Buku Sepatu Dahlan

Buku ini menceritakan masa kecil seorang Dahlan Iskan dengan cukup detail. Melalui penggambaran latar dan suasana, pengarang mampu menghidupkan cerita. Gaya bahasa yang digunakan cukup jelas dan mudah dipahami, sehingga cocok dibaca oleh semua kalangan.

Banyak pesan moral yang bisa diambil dalam buku terbitan tahun 2012 ini. Salah satunya untuk selalu bekerja keras, tidak mudah putus asa, dan tetap bersyukur walaupun dalam keterbatasan. Buku ini juga menyadarkan kita bahwa kemiskinan bukan akhir dari segalanya. “Kemiskinan yang dijalani dengan tepat, akan mematangkan jiwa” adalah salah satu pesan yang disampaikan dalam novel Sepatu Dahlan.

Cover Belakang pada Buku Sepatu Dahlan

Informasi terkait buku

Judul               : Sepatu Dahlan

Pengarang       : Khrisna Pabichara

Penyunting      : Suhindrati Shinta dan Rina Wulandari

Penerbit           : Penerbit Noura Books (PT Mizan Publika) Anggota IKAPI

Tahun Terbit    : Cetakan I, Mei 2012 dan Cetakan II, Mei 2012

Halaman          : 369 hlm.

Reporter: Nabila Balqist & Monalisa Elizabeth

Editor: Anita Permata S

LEAVE A REPLY