Vaporizer Vs Rokok Tembakau

0
837

Jakarta – Suara Ekonomi.

Beberapa waktu terakhir, sering kita dengar masalah mengenai pertumbuhan para perokok di Indonesia. Hingga sempat beredar di masyarakat bahwa isu harga rokok akan dinaikan menjadi Rp.50.000, Karena tak ingin ambil pusing dengan harga rokok yang menjadi perbincangan tersebut, masyarakat mulai meninggalkan rokok biasa dan beralih menggunakan rokok elektronik.

Perkembangan teknologi yang semakin pesat kerap membuat beberapa perubahan, tak terkecuali untuk rokok. Seperti yang kita ketahui wujud dari rokok adalah silinder dari kertas berukuran panjang antara 70 hingga 120 mm dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah. Rokok dibakar pada salah satu ujungnya dan dibiarkan membara agar asapnya dapat dihirup lewat mulut pada ujung lainnya. Rokok biasanya dijual dalam bungkusan berbentuk kotak atau kemasan kertas yang dapat dimasukkan dengan mudah ke dalam kantong.

© vapor-id.blogspot.com / Bentuk dari perangkat vape

Awal tahun 2016, rokok elektrik atau yang biasa disebut Vaporizer mulai populer di Indonesia khususnya dikalangan remaja. Vape merupakan perangkat bertenaga baterai yang menyediakan dosis nikotin hirup dengan memberikan rasa sama seperti merokok. Meskipun sudah banyak penggunanya, penggunaan rokok elektrik masih menjadi pro dan kontra dikalangan masyarakat. Ada yang berpendapat rokok elektrik menjadi langkah awal untuk berhenti merokok tembakau, namun ada juga yang berpendapat rokok elektrik tidak mampu menolong perokok mengatasi kecanduan dalam merokok.

Bagi kalian yang sudah mengganti rokok tembakau dengan Vape, berikut adalah tips untuk merawat dan menggunakan vape dengan benar :

  • Tips yang pertama adalah pakai charger dan baterai original vape jangan menggunakan charger vape sembarangan karena baterai dan charger original biasanya terdapat fitur cut yang mencegah korsleting.
  • Tips ke-dua, jangan menggunakan vape hingga baterai benar-benar kosong, sisakan baterai 15%-20%.
  • Tips ke-tiga,jangan mencharge terlalu lama karena hal tersebut dapat merusak baterai
  • Tips ke-empat, gunakan pengaturan yang pas, pengguna harus mempertimbangkan nilai ohm dan voltase dari baterai yang dapat menetukan ketahan modnya dan baterai apabila terlalu kecil vape akan menjadi cepat panas dan habis.
  • Tips ke-lima, jangan menggunakan vape terlalu sering, berilah jeda waktu pemakaian apabila vape sudah terasa panas
  • Tips ke-enam, matikan vape apabila tidak dipakai karena dapat tertekan atau tertindih jika kita meletakannya disaku celana
  • Tips terkahir, berhati-hati lah jangan sampai vape terjatuh atau tertekan karena dapat merusak komponen vape.

Alangkah baiknya jika kita mengikuti tips diatas, karena banyak sekali kasus meledaknya vape yang terjadi. Hal tersebut terjadi karena salah dalam melakukan penggunaannya dan hanya mementingkan trend, tanpa memikirkan keselamatan itu sendiri.

Jika dibandingkan dengan rokok biasa, Vape memang lebih ramai diminati pada era sekarang. Meskipun keduanya memiliki bahaya masing-masing, rokok elektrik sedikit lebih modern dibanding rokok tembakau, Berikut bahaya rokok elektrik dan rokok tembakau menurut hellosehat.com :

  Rokok tembakau mengeluarkan asap hasil pembakaran tembakau, rokok elektrik menghasilkan uap dari cairan perasa buah, dan nikotin yang dipanaskan.

  Rokok tembakau dapat menyebabkan penyakit jantung, paru-paru, impotensi, gangguan kehamilan dan janin. Vape menyebabkan gangguan tenggorokan hidung dan pernapasan.

  Rokok tembakau mengandung nikotin, tar, arsenic, karbon monoksida, ammonia dan berbagai bahan kimia lainnya. Rokok elektrik mengandung nikotin, gliserol sayuran, propylene glycol, pemanis buatan, dan macam-macam rasa buah.

  Selain asap, rokok tembakau meninggalkan sampah seperti abu rokok dan batang rokok sedangkan vape tidak meninggalkan sampah.

  Asap rokok tembakau meninggalkan bau dan tidak larut dalam cairan sedangkan Rokok elektrik meninggalkan uap yang larut dalam cairan dan bau dari perasa buah.

© vaporfever.com / Contoh dari uap vape

Pihak World Health Organization (WHO) pun telah menganjurkan produsen rokok elektrik untuk tidak mengklaim produknya sebagai alat bantu berhenti merokok. Sampai ada bukti ilmiah kuat yang mendukung hal tersebut. Menurut WHO, uap rokok elektrik mengandung zat kimia berbahaya yang dapat menimbulkan polusi udara. Rokok elektrik mengandung nikotin cair dan bahan pelarut propilen glikol, dieter glikol, dan gliserin. Jika semua bahan itu dipanaskan akan menghasilkan senyawa nitrosamine. Senyawa tersebut dapat menyebabkan kanker. Dan juga rokok elektrik dapat memicu inflamasi dalam tubuh, infeksi paru-paru dan meningkatkan risiko asma, stroke serta penyakit jantung.

Terlepas dari pro dan kontra dari keduanya, akan lebih baik jika dapat  mengurangi penggunaan rokok. Mulailah melakukan perubahan pada gaya hidup yang sebelumnya kurang baik, menjadi gaya hidup yang sehat seperti dengan berolahraga teratur, perbanyak minum air putih, dan istirahat yang cukup. Karena terdapat banyak manfaat yang dapat dirasakan jika tidak mengkonsumsi rokok.

Reporter : Shavira Fitria & Rivaldi Hadi

Editor : Nurul Zahara

BAGIKAN
Berita sebelumyaResensi Novel Dear Nathan
Berita berikutnyaNongkrong Kekinian di Cibinong
LPMSE atau Lembaga Pers Mahasiswa Suara Ekonomi merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa yang lahir sejak 1986 di Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Pancasila Jakarta. Produk LPMSE : Majalah, Buletin, Koran, Tabloid, Lembar Pemberitahuan, Mading, MyCampus, dan lainnya dan kini Majalah Online di www.suaraekonomi.com