Indonesia menduduki peringkat kedua dengan puluhan ribu kasus perempuan yang terkena kanker serviks setiap tahunnya. Kanker serviks tercatat sebagai salah satu penyebab kematian tertinggi pada perempuan di Indonesia. Karena itu, Kementerian Kesehatan, resmi mencanangkan program vaksin HPV (Human Papillomavirus) gratis di beberapa daerah sejak 2016, yang kemudian diperluas secara nasional pada 2023. Program ini merupakan inisiatif pemerintah untuk mencegah dan menurunkan angka kanker serviks serta melindungi kesehatan perempuan Indonesia.
Vaksin HPV diberikan dalam dua dosis, yaitu dosis pertama saat remaja putri kelas 5 Sekolah Dasar (SD) dan dosis kedua saat naik ke kelas 6 SD (11–12 tahun) dengan interval pemberian sekitar 6 hingga 12 bulan. Pelaksanaannya dilakukan melalui kegiatan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) setiap bulan Agustus.
“Imunisasi HPV diberikan melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) di sekolah. Jadi, petugas Puskesmas yang mendatangi sekolah-sekolah dasar di wilayah kerjanya untuk menyuntikkan vaksin kepada siswi kelas 5 dan 6,” ujar mantan Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kemenkes, dr. Elizabeth Jane Soepardi dikutip dari voi.id.

Pemberian vaksin HPV dinilai sangat penting karena virus HPV merupakan penyebab utama kanker serviks. Vaksinasi pada usia remaja terbukti membantu tubuh membentuk antibodi sebelum terjadi paparan virus.
Program ini sepenuhnya dibiayai oleh negara melalui APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) dan diberikan secara gratis bagi sasaran yang memenuhi kriteria usia. Namun, kebijakan ini hanya berlaku bagi kelompok usia yang ditentukan pemerintah. Remaja diatas 15 tahun dan orang dewasa tetap harus membayar jika ingin mendapatkan vaksin HPV, dengan biaya di rumah sakit berkisar antara Rp1 juta hingga Rp2 juta tergantung dari merek dan fasilitas layanan.
Cakupan vaksinasi HPV tertinggi tercatat di Jakarta Pusat yang mencapai 90,1 persen. Tingginya cakupan ini menjadi dasar pemerintah untuk memperluas program ke wilayah lain, termasuk Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada 2017.
Pemerintah menargetkan sekitar 90 persen anak perempuan usia 11–12 tahun menerima vaksin HPV secara lengkap. Melalui program ini, diharapkan angka kasus dan kematian akibat kanker serviks dapat menurun, kesehatan reproduksi perempuan lebih terlindungi, serta kualitas kesehatan generasi mendatang meningkat.
“Kita ingin agar ini (Vaksinasi HPV) cepat-cepat bisa diluncurkan secara nasional untuk bisa menurunkan kematian ibu yang disebabkan oleh kanker serviks,” ujar Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, dr. Maxi Rein Rondonuwu dikutip dari biofarma.co.id.

Program vaksinasi HPV gratis secara nasional merupakan langkah strategis pemerintah dalam mencegah kanker serviks sejak dini. Melalui pelaksanaan di sekolah dan puskesmas, pemerintah berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pencegahan penyakit serta melindungi kesehatan generasi muda di masa depan.
Penulis: Wirda Fauzah
Editor: Esti Novitasari












































