Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto akan meluncurkan Badan Pengelola Investasi (BPI) Indonesia yang bernama Daya Anagata Nusantara (Danantara). Danantara dibentuk untuk mengoptimalkan kekayaan negara melalui investasi strategis.
Danantara merupakan singkatan dari Daya Anagata Nusantara. Prabowo menjelaskan arti nama Danantara, bahwa Daya berarti energi atau kekuatan, Anagata berarti masa depan, dan Nusantara merujuk pada tanah air, Indonesia.
“Daya artinya energi, kekuatan. Anagata artinya masa depan. Nusantara adalah tanah air kita. Artinya, Danantara ini adalah kekuatan ekonomi, dana investasi, yang merupakan energi kekuatan masa depan Indonesia,” ujar Prabowo, dikutip dari detik.com.
Presiden Prabowo Subianto juga mengungkapkan tujuan utama pemerintah dalam membentuk Danantara, yaitu untuk mengoptimalkan pengelolaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

“Danantara adalah konsolidasi semua kekuatan ekonomi kita yang ada dalam pengelolaan BUMN. Itu nanti akan dikelola dan kita beri nama Danantara,” katanya kepada wartawan di Istana Merdeka, Senin (17/2), dikutip dari cnnindonesia.com.
Sebagai Badan Pengelola Investasi (BPI) , Danantara nantinya akan menginvestasikan modal yang berasal dari sumber daya alam dan aset negara ke dalam proyek-proyek berkelanjutan, dengan fokus pada investasi non-APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara).
Struktur Organisasi Danantara
Struktur entitas baru yang digadang-gadang menjadi cikal bakal superholding BUMN ini terdiri atas tiga komponen utama, yaitu:
- Dewan Pengawas
- Dewan Penasehat
- Badan Pengelola Danantara.
Dalam Pasal 3N RUU terkait, Dewan Pengawas BPI Danantara terdiri atas:
- Menteri BUMN sebagai Ketua merangkap anggota,
- Perwakilan dari Kementerian Keuangan sebagai anggota,
- Pejabat negara atau pihak lain yang ditunjuk oleh Presiden sebagai anggota.
Dengan demikian, Menteri BUMN Erick Thohir akan menjabat sebagai Ketua Dewan Pengawas BPI Danantara.
Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah mewanti-wanti pusaran kepentingan dalam tubuh Danantara. Pengawalan ketat diperlukan, bahkan oleh masyarakat. Supaya, Danantara tak jadi bancakan kepentingan politik.
“Jangan sampai Danantara menjelma sebagai lembaga baru untuk ajang bagi-bagi kekuasaan dan uang,” kata Dedi kepada wartawan, Senin 17 Februari 2025, dikutip dari viva.co.id

Alokasi Dana untuk Danantara
Presiden Prabowo Subianto juga mengungkapkan bahwa Rp200 triliun dari dividen BUMN tahun 2025 akan dialokasikan ke Danantara. Keputusan ini diambil setelah pemerintah menghimpun total dana sebesar Rp750 triliun dari berbagai sumber, termasuk dividen BUMN dan penghematan anggaran.
Menteri BUMN Erick Thohir melaporkan bahwa pencapaian dividen BUMN tahun ini mencapai Rp300 triliun. Dari jumlah tersebut:
- Rp100 triliun dikembalikan ke BUMN sebagai modal kerja,
- Rp200 triliun dialokasikan untuk investasi melalui Danantara.
Selain dividen BUMN, pemerintah juga melakukan penghematan anggaran dalam dua tahap:
- Penghematan pertama sebesar Rp300 triliun,
- Penghematan kedua sebesar Rp308 triliun.
Dengan tambahan dana dari dividen BUMN, total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp750 triliun.
Dari jumlah tersebut, pemerintah mengalokasikan 24 miliar dolar AS untuk program pemenuhan gizi masyarakat, terutama bagi anak-anak.
“24 (miliar dolar AS) terpaksa saya pakai untuk apa? Untuk makan bergizi, rakyat kita, anak-anak kita tidak boleh kelaparan. Anak-anak kita harus makan bagus,” ujar Presiden Prabowo, dikutip dari wartaekonomi.co.id.
Setelah alokasi tersebut, Prabowo memastikan bahwa sisa 20 miliar dolar AS tidak akan digunakan untuk pengeluaran lain, melainkan akan dialokasikan ke Danantara sebagai bagian dari strategi investasi jangka panjang.
Penulis: Tim Redaksi LPM Suara Ekonomi














































