Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Keluarga Mahasiswa Universitas Pancasila (SEMA FEB-KMUP) memutuskan membatalkan dua agenda utama Economic Fair (EF) 2025, yakni talkshow dan berbagai lomba yang telah direncanakan. Keputusan kontroversial ini meninggalkan hanya acara pentas seni (pensi) sebagai satu-satunya kegiatan utama.

Raditya Dika Tidak Merespons, Talkshow Dibatalkan

Ketua Pelaksana EF 2025, Zildan, mengungkapkan bahwa pembatalan talkshow disebabkan oleh ketidakresponsifan pihak Raditya Dika yang rencananya menjadi narasumber utama. “Raditya Dika sudah kita calling dan kita minta invoice, tapi dari pihak mereka slow response. Kemungkinan tidak ada jawaban sama sekali,” ujar Zildan.

Ketua Bidang 2 SEMA FEB-KMUP, Aditry Dhia, menambahkan bahwa pihak manajemen Raditya Dika sangat lambat merespons komunikasi. “Kita udah buat jadwal tanggal 4 buat ketemuan di tempat Radit, si manajernya pun gak bales. Mungkin balesnya nanti malem, entah sehari selanjutnya,” keluhnya.

Menariknya, pilihan Raditya Dika sebagai narasumber bukan inisiatif panitia, melainkan arahan dari pihak lembaga SEMA-FEB KMUP. Zildan mengakui, “Pengennya lembaga, terus setelah didiskusikan ke gue dan ke panitia, kami setuju menggunakan Raditya Dika.”

Lomba Futsal dan Mobile Legends Terhenti

Selain talkshow, dua lomba utama yakni futsal dan Mobile Legends juga ikut dibatalkan dengan alasan berbeda. Lomba futsal dihentikan karena kekhawatiran pihak pimpinan fakultas akan terulangnya kerusuhan seperti tahun sebelumnya.

“Pihak pimpinan tidak mau adanya kerusuhan lagi seperti tahun kemarin. Takutnya khawatir kejadian tahun kemarin lagi,” jelas Zildan. Ia menambahkan bahwa beberapa sekolah yang terlibat rusuh tahun lalu sudah masuk daftar hitam pimpinan.

Sementara itu, lomba Mobile Legends dibatalkan karena minimnya peserta dan masalah ketersediaan aula. “Peserta dikit dan permasalahan aula. Ketika di kelas apakah bisa berjalan dengan baik,” ungkap Zildan.

Pensi Sore sebagai Satu-satunya Harapan

Dengan dibatalkannya talkshow dan lomba, EF 2025 kini hanya mengandalkan acara pentas seni yang menampilkan band Sore sebagai guest star utama. Acara dijadwalkan berlangsung pada 29 Agustus 2025 di lapangan parkir FEB dari pukul 16.00 hingga 21.00 WIB.

“Kalau dari saya sendiri sih fokus di pensi. Karena pensi ini gratis, sesuai dengan tujuan EF untuk branding fakultas,” kata Zildan. Target penonton ditetapkan sebanyak 700 orang.

Aditry Dhia menjelaskan bahwa sebenarnya ada opsi narasumber lain seperti Ferry Irwandi, namun dinilai tidak mampu menarik massa sebesar Raditya Dika. “Ada mengundang Ferry Irwandi, cuma apakah bisa menarik massa? Sementara Raditya Dika bisa menarik massa,” ujarnya.

Kapel EF juga menekankan pentingnya pensi dibanding talkshow dan lomba dengan alasan bahwa acara tersebut gratis dan sesuai dengan tujuan branding fakultas. “Kalau dari saya sendiri sih di pensi. Karena kan gini ya, untuk pensi ini kan kita gratis. Nah itu kan sesuai dengan Economic Fair bahwa tujuannya untuk branding fakultas dengan cara gratis. Kan mana ada kampus lain yang mengundang guest star dan special performance itu gratis? Tidak ada, cuma ada di FEB ini. Nah kemungkinan saya terfokusnya di pensi,” ujarnya.

Kompensasi untuk Peserta Terdampak

Bagi peserta yang telah mendaftar lomba, panitia berkomitmen memberikan pengembalian dana 100%. “Kita refund lagi uangnya dan kita minta maaf untuk perlombaan yang terpaksa kita cut,” janjikan Zildan.

Tercatat, lomba Mobile Legends yang dibatalkan sudah memiliki 4-5 peserta yang telah membayar biaya pendaftaran

Pembatalan dua agenda utama EF 2025 mengungkap lemahnya perencanaan strategis panitia. Ketergantungan berlebihan pada satu narasumber tanpa menyiapkan rencana cadangan yang matang menunjukkan kurangnya manajemen risiko. Pilihan menempatkan Raditya Dika sebagai satu-satunya opsi narasumber, padahal ada alternatif seperti Ferry Irwandi, mencerminkan pengambilan keputusan yang kurang fleksibel.

Dari wawancara terungkap adanya miskomunikasi antara berbagai pihak. Ketua Pelaksana mengakui kurangnya komunikasi dengan divisi tertentu, sementara ada indikasi kurangnya sinkronisasi antara panitia, SEMA FEB-KMUP, dan BPM FEB-KMUP. Fakta bahwa BPM FEB-KMUP jarang hadir dalam rapat progres juga menunjukkan lemahnya fungsi pengawasan. Penolakan panitia untuk mempresentasikan progres detail kepada organisasi mahasiswa dalam rakor menimbulkan pertanyaan tentang transparansi pengelolaan acara.

Permasalahan EF 2025 mencerminkan krisis kepemimpinan dan pengambilan keputusan. Ketergantungan berlebihan pada arahan lembaga tanpa inisiatif mandiri dari panitia mencerminkan lemahnya kepemimpinan. Keputusan “bermain aman” dengan memangkas acara alih-alih mencari solusi kreatif menunjukkan mentalitas defensif yang kontraproduktif.

Reduksi EF menjadi sekadar “pentas musik gratis” mengkhianati esensi Economic Fair sebagai ajang edukasi ekonomi dan bisnis. Argumentasi bahwa “ilmu ekonomi ada di bazar” sangat lemah dan menunjukkan pemahaman dangkal tentang fungsi educational event. Tidak adanya contingency plan yang memadai, terutama untuk skenario pembatalan narasumber utama, menunjukkan imaturitas dalam perencanaan event.

Pola komunikasi hirarkis SEMA FEB KMUP-Kapel-Panitia yang kaku menciptakan hambatan informasi. Kurangnya keterlibatan BPM FEB-KMUP sebagai fungsi pengawasan memperparah masalah koordinasi. Pergeseran dari event komprehensif menjadi “pensi doang” mencerminkan penurunan ambisi dan standar. Ini bukan hanya kegagalan teknis, tetapi juga kegagalan visi dalam menghadirkan value proposition yang bermakna bagi civitas akademika.

Reaksi Keras Organisasi Mahasiswa

Pembatalan agenda EF 2025 menuai kritik keras dari berbagai organisasi kemahasiswaan. Ketua Himpunan Mahasiswa Diploma (Himaprodip) periode 2024/2025, Najwa Putri, menyayangkan keputusan tersebut. “EF itu wadah untuk mewadahi minat bakat mahasiswa melalui lomba-lomba baik akademik maupun non akademik. Sangat disayangkan ketika lomba-lomba itu di-cut,” ujarnya.

Kritik serupa dilontarkan Ketua Pancasila Economic Art Division (PEAD), Muhammad Fayyaz, yang menyoroti sikap panitia dalam rakor. “Harusnya tetap menampung saran, jangan bersifat tangguh dan arogan. Mereka nggak bakal bisa berjalan tanpa bantuan kita,” tegasnya.

Wakil Ketua Pancasila English Meeting (PEM), Jevon Edbert, menilai pembatalan talkshow berdampak pada reputasi universitas. “Ketidakjadian talkshow pasti berpengaruh terhadap nama Universitas Pancasila, karena talkshow bisa membantu FEB meningkatkan namanya di universitas lain,” jelasnya.

Ketua Rohani Islam (Rohis), Abdul Rendra, turut menyayangkan pembatalan tersebut. “Terkait talkshow sangat disayangkan dibatalkan. Untuk futsal dan ML sebagai lomba non-akademik juga sangat disayangkan kalau dibatalkan,” katanya.

Sementara itu, Ketua KMPM Resusila 7791, Devia Nazalia, mempertanyakan esensi rakor yang tidak menampung aspirasi. “Ngapain ada rapat koordinasi kalau cuma buat formalitas? Mending gak usah, langsung aja rapat sosialisasi daripada menimbulkan hal-hal kayak gini,” kritiknya pedas.

Transparansi dan Akuntabilitas Dipertanyakan

Para pimpinan organisasi juga menyoroti minimnya transparansi panitia. Dalam rakor yang digelar, panitia hanya menampilkan ketua pelaksana tanpa presentasi detail dari setiap divisi. Hal ini dinilai mengurangi kesempatan untuk evaluasi kinerja dan pemberian masukan konstruktif.

“Setiap bidang seharusnya bisa menjelaskan progresnya, tapi ketika kapel tidak bisa menjawab, bidangnya boleh membantu. Jangan tidak peduli atau tidak mau membantu,” saran Muhammad Fayyaz dari PEAD.

Economic Fair 2025 menjadi case study tentang bagaimana kesalahan manajemen dapat menggerus kredibilitas dan nilai sebuah event tradisional. Diperlukan evaluasi menyeluruh dan perubahan fundamental dalam pendekatan pengelolaan untuk memulihkan reputasi EF di masa mendatang.

EF seharusnya menjadi representasi dari FEB UP secara keseluruhan. Namun, pembatalan ini membuat event tersebut tidak lagi mencerminkan identitas fakultas, melainkan hanya terlihat sebagai ajang untuk memenuhi kepentingan kelompok tertentu.

Penulis: Tim Redaksi LPM Suara Ekonomi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini