KAMPUSNYA PARA MUSISI JALANAN

0
210

Jakarta – Suara Ekonomi.

Jika kita berbicara mengenai anak jalanan, pasti yang ada dipikiran kalian adalah mereka yang pemalas, rusuh, kasar, dan tidak beraturan. Intinya semua hal yang mereka lakukan adalah sesuatu yang menyimpang atau negatif. Padahal tidak semua anak jalanan seperti itu. Tidak sedikit dari mereka yang justru mempunyai talenta dalam hal berkesenian, tepatnya dalam hal bermusik. Hanya saja, mereka ini tidak memiliki kesempatan untuk berkarya. Padahal, banyak karya mereka yang juga terbilang sangat bagus.

Ditambah lagi dengan adanya larangan dari Pemerintah Daerah yang mengatur tentang larangan memberi uang kepada pengamen, pengemis, ataupun anak jalanan. Salah satunya di kota Depok, yang diatur dalam Perda kota Depok No.16 tahun 2002. Meski disatu sisi peraturan ini mempunyai tujuan baik, tetapi disisi lain nasib para anak jalanan ini yang dipertaruhkan.

Melihat kondisi semakin sempitnya ruang berkarya bagi para musisi jalanan ini, Andi Malewa alumni Fakultas Teknik Universitas Pancasila ini bersama dengan dua rekan temannya, Iksan Skuter, serta Frysto Gurning, mendirikan Institut Musik Jalanan (IMJ) pada tahun 2014.

“Banyak larangan terhadap pengamen pinggir jalan, larangan memberi uang kepada pengamen. Terus kalau dilarang solusinya apa? Kalau tidak ada solusi larangan ini hanya akan menciptakan bibit-bibit baru dijalanan. Makanya gue bangun Institut Musik Jalanan ini. Gue mau menunjukan kepada semua elemen, termasuk pemerintah dan masyarakat, kalo musisi jalanan diberi ruang buat berkarya mereka akan mampu menjadi musisi profesional.” Ungkap Andi Malewa.

Andi Malewa, alumni Fakultas Teknik Universitas Pancasila yang sekaligus pengelola Institut Musik Jalanan (IMJ)

Di Institut Musik Jalanan ini, para musisi jalanan dibina dan diberi pembelajaran agar mereka bisa mematangkan hasil karyanya. Mengaransemen lagu bahkan memprosesnya hingga tahap recording. Di sini juga ada kelas-kelas pembelajaran dalam hal bermusik seperti, kelas vokal, kelas Performance, kelas Skill Gitar Individu, kelas Bass, dll. Dibentuknya kelas-kelas seperti ini agar mereka mendapat ilmu agar bisa bersaing dalam industri musik di Indonesia. Tenaga pengajarnya pun banyak yang berasal dari musisi-musisi papan atas Indonesia.

“Bersaing di industri musik Indonesia ini kan gak gampang. Mereka perlu arahan dan pembinaan. Makanya di Institut Musik Jalanan ini juga ada kelas-kelas. Yang mengajar disini ada Glen Fredly, Slank, Superglad, Barry Likumahuwa, dan masih banyak lagi musisi papan atas yang bergabung disini.” ucapnya.

Institut Musik Jalanan bukan hanya sebagai ruang rekaman gratis bagi musisi jalanan. Disini mereka juga serius menganggap sebuah label rekaman dan memproduksi album. Saat ini gedung IMJ memiliki fasilitas seperti Ruang Rekaman, kantor Manajemen, Stage Akustik, dan ruang pembekalan kelas Musik.

Stage Akustik

Musisi Jalanan tersebut telah berhasil memproduksi dan membuat 2 album. Album pertama dirilis pada tahun 2014 sebanyak 2000 keping dan semuanya habis dijual. Sedangkan album kedua dirilis pada tahun 2016 dan dijual melalui I-Tunes dan Spotify. Tak hanya itu, Institut Musik Jalanan ini beberapa kali tampil di acara-acara ternama seperti Dahsyat, dll.

Dalam menjalankan Institut Musik Jalanan ini, Andi menjelaskan bahwa tidak ada kendala yang berarti baginya. Dia hanya melihat itu sebagai rintangan yang harus dilewati.

Institut Musik Jalanan mempunyai sekretariat yang berlokasi di Jl. Baru PJKA Akses Stasiun Depok Baru Kampung Lio–Beji, Depok. Sekretariat IMJ atau nama lainnya Kedai Ekspresi ini buka setiap hari mulai pukul 10.00–23.00 WIB. Disini tidak hanya ada komunitas musik saja, melainkan ada menu yang tersaji, seperti Nasi Goreng, Es Pisang Ijo, Sop Ubi Makassar, Sop Durian dan masih banyak lagi.

Dalam menjalankan Institut Musik Jalanan ini, Andi menjelaskan bahwa tidak ada kendala yang berarti baginya. Dia hanya melihat itu sebagai rintangan yang harus dilewati. Andi sangat berharap Institut Musik Jalanan yang dikelolanya bersama teman-teman yang lainnya ini tetap konsisten dan terus berjuang mengelolanya. “Gue berharap dari rumah ini akan banyak musisi-musisi profesional yang lahir dari jalanan.” tutup Andi.

Reporter : Yandi Putera Barliyan dan Resha Mufti

Editor : M. Rizal Arbianto