Membusuknya Beras Bulog di Penghujung Tahun

    0
    129

    Di penghujung tahun 2019, beredar beras busuk dari Perum Bulog akibat terlalu lama tersimpan  . Jumlah beras yang membusuk sekitar 20.000 ton. Beras tersebut diperkirakan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia dalam setahun.

    Beras Dibuang karena Serapan Bulog Rendah Sumber:Kumparan.com

    Dilansir dari akun youtube KOMPASTV, Bapak Budi Waseso, selaku Direktur Utama Perum Bulog mengatakan “masalah oecadangan pemerintah yang turun mutu muncul akibat terhambatnya distribusi beras pada tahun 2017, untuk program bantuan pangan  non tunai. Beras ini tidak akan dibuang begitu saja. Kami akan mencari opsi lain dengan menjualnya ke industri pengolahan etanol,” ujarnya.

    Penjualan beras ini akan dijual secara umum. Proses penjualan beras kali ini diawasi dengan ketat dan ada perjanjiannya. Kualitas beras harus bagus dan tidak ada yang busuk. Budi Waseso meminta agar ada evaluasi dari permasalahan-permasalahan tersebut.

    Tentunya, pemerintah harus memperbaiki teknologi penyimpanan. Karena, tidak semuanya first in dan first out. Beras yang datangnya duluan, jika ditempatkan paling ujung akan menghambat beras untuk didistribusi. Karena akan ada pemasok berdatangan dan beras yang lama akan sulit untuk didistribusikan. Kualitas beras yang dihasilkan harus bagus karena ongkos penyimpanan tergantung kadar air. Jika kadar airnya lembab seperti sekarang ini, empat bulan kedepan akan rusak.

    20 Ribu Ton Beras Bulog Terancam Dimusnahkan
    Sumber: Detik Finance

    Berdasarkan peraturan Menteri Pertanian, terdapat empat langkah dalam menanggulangi penurunan mutu beras. Pertama, beras dijual dalam eceran tertinggi. Kedua, beras diolah kembali untuk memperbaiki mutu. Ketiga, melakukan penukaran untuk mendapatkan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dengan kualitas yang lebih baik. Keempat, dihibahkan untuk bantuan sosial dan kemanusiaan

    Dikarenakan memburuknya kualitas beras saat ini, harga jual menjadi lebih murah dibandingkan harga beli. Kisaran harga perkilo yang dijual, yakni Rp5.000,00, sedangkan harga beli  Rp8.000,00, .Harga ini sudah diperhitungkan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani. Dengan harga  jual lebih murah daripada harga beli, pemerintah mendapatkan kerugian Rp3.000,00, perkilo.

    Reporter : Arieza Rizky

    Editor : Dinda Nadya

    BAGIKAN
    Berita sebelumyaAlasan Khusus Di Balik Pemindahan Ibu Kota
    Berita berikutnyaResensi Buku: Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
    LPMSE atau Lembaga Pers Mahasiswa Suara Ekonomi merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa yang lahir sejak 1986 di Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Pancasila Jakarta. Produk LPMSE : Majalah, Buletin, Koran, Tabloid, Lembar Pemberitahuan, Mading, MyCampus, dan lainnya dan kini Majalah Online di www.suaraekonomi.com

    LEAVE A REPLY