Potret Pendidikan di Indonesia

0
1154

Jakarta – Suara Ekonomi.

Mudahnya masyarakat kota memperoleh pendidikan jauh berbanding terbalik dengan mereka yang berada di pedalaman. Dengan mendapatkan fasilitas yang lengkap, kemudahan dari segi akses, baik komunikasi maupun transportasi. Serta, aspek pendukung lainya yang tentunya membuat kondisi pendidikan di kota jauh lebih baik dari kondisi di pedalaman.

Fasilitas pendidikan di perkotaan sangatlah lengkap. Mulai dari tenanga pengajar, jumlah sekolah, dan lokasi yang terjangkau Serta fasilitas pendukung lainya. Sayangnya, kelengkapan fasilitas ini tidak didukung dengan baik oleh semangat belajar peserta didik. Masih banyak pelajar yang lalai dengan tugasnya, bahkan terkadang mereka lebih memilih untuk melakukan hal-hal diluar kewajibanya.

Meski kondisi pendidikan di kota sudah ditunjang dengan fasilitas yang lengkap, ternyata banyak masyarakat yang masih kurang peka akan hal tersebut. Jika dibandingkan, pelajar di perkotaan seharusnya tidak perlu khawatir dan bersusah payah menuju sekolah, karena akses transportasi sudah merajalela. Sementara mereka yang berada di pedalaman harus menempuh waktu 5-10 jam untuk sampai disekolah dikarenakan keterbatasan transportasi.

Selain masalah akses transportasi, pelajar di perkotaan relatif kurang menghargai waktu. Saat diwaktu sekolah pun, mereka masih sempat untuk mem-bolos dan memilih pergi ke warnet. Begitu pula ditingkat prestasi, peserta didik di perkotaan sudah banyak unjuk kecerdasan. Sementara pelajar di pedalaman tidak sehebat itu. Bahkan, siswa tingkat SMA di daerah, masih belum bisa membedakan dan keliru antara huruf “B” dan “P”.

Seperti yang telah diketahui, Kondisi pendidikan di perkotaan sangatlah berbeda dengan kondisi di pedalaman, sebagai contoh nyata terkait masalah ketidakmerataan pendidikan di Indonesia, Sekolah Dasar Negeri (SDN) Gopduya di wilayah kampung Seiya, Kabupaten Sorong, Papua Barat. Sekolah Dasar ini menjadi satu-satunya sekolah bagi lebih dari 134 kepala keluarga dan 459 warga kampung Seiya. Namun, sangat disayangkan kualitas pendidikan di SD ini semakin lama semakin menurun. Tercatat sejak tahun 2005 sampai 2010 proses belajar mengajar harus terhenti karena tidak adanya guru. Selain ketiadaan guru, masalah lain yang dihadapi sekolah ini adalah ruang kelas dan buku.

© genrenations.blogspot.com / SDN Gopduya di wilayah kampung Seiya, Kabupaten Sorong, Papua Barat.

Kampung Seiya sendiri adalah kampung terjauh di Distrik Mare, berjarak 30 Km dari kampung Sire. Jarak tempuh yang jauh dan minimnya sarana prasarana sekolah, serta ditambah kurangnya fasilitas untuk guru, menjadikan guru tidak betah mengajar di kampung ini. Selain hal diatas, masih banyak juga penyebab-penyebab lainya.

© alifrindra.blogspot.com / kurangnya fasilitas penunjang proses belajar mengajar

Besarnya biaya pendidikan , mahalnya biaya transportasi, dan tingginya biaya hidup, juga menjadikan para pengajar di SDN Gopduya ini kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, belum lagi upah yang mereka peroleh sangat kecil. Hal inilah yang menyebabkan tenaga guru yang semestinya fokus mengajar, malah harus mencari penghasilan tambahan.

Penyebab utama perbedaan kondisi pendidikan di daerah perkotaan dan daerah pedalaman salah satunya adalah faktor ekonomi. Karena mayoritas penduduk di pedalaman berprofesi tidak jauh dari petani, sementara di perkotaan banyak profesi-profesi dengan penghasilan yang menjamin. Sehingga memungkinkan masyarakat dikota untuk menempuh pendidikan dengan jenjang yang tinggi. Sementara di pedalaman, rata-rata hanya sebatas lulusan SD.

Tingginya biaya pendidikan di Indonesia, juga merupakan masalah utama dari pendidikan itu sendiri. Banyak anak usia pelajar putus sekolah karena terkalahkan dengan biaya pendidikan yang tinggi sehingga mereka memilih membantu orang tuanya untuk menunjang kehidupan sehari-hari. Hal inilah yang mebuktikan bahwa pendidikan di Indonesia memang belum merata, seakan hanya orang-orang mampu saja yang bisa mengenyam pendidikan.

Ketidak merataan pendidikan dapat memicu timbulnya kriminalitas dikalangan masyarakat. Sempitnya pola pikir akan mendorong masyarakat untuk melakukan tindakan semaunya tanpa memikirkan dampak baik atau buruk kepada masyarakat lainnya. Mereka melakukanya tak lain adalah untuk mengharapkan kelangsungan hidup yang jauh lebih baik. Maka dari itu, seluruh lapisan masyarakat mesti mengenyam pendidikan, agar tindakan-tindakan yang tidak diinginkan dapat diminimalisir kejadianya.

Solusinya, pemerintah perlu memberikan perhatian lebih terhadap permasalahan pendidikan di Indonesia. Pemerintah juga harus menekankan perhatianya kepada masyarakat pedalaman, baik itu di segi perekonomian, kemudahan akses, serta pendidikan yang layak. Dengan majunya ekonomi dan transportasi daerah pedalaman dapat meningkatkan pendidikan dan kesejahteraan kehidupan masyarakat. Karena, pendidikan merupakan jantung dari sebuah negara.

Majunya sebuah negara ditandai pula dengan majunya pendidikan di negara tersebut. Oleh karena itu dengan meratanya pendidikan di setiap daerah dapat meningkatkan kualitas dari negara tersebut.

Reporter : Dita Aulia Utami
Editor : Nurul Zahara