Kematian Ermanto Usman (65), pensiunan karyawan Jakarta International Container Terminal (JICT), memunculkan tanda tanya di tengah publik. Ia ditemukan tewas di rumahnya di Jatibening, Pondok Gede, Bekasi, pada Senin (2/3) dini hari, saat diketahui tengah aktif mengungkap dugaan korupsi di sektor pelabuhan.
Kepolisian menyebut kasus tersebut sebagai tindak pidana pencurian yang berujung pembunuhan. Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Iman Imanuddin, mengatakan pelaku bernama Sudirman alias Yuda (28) masuk ke rumah korban dengan tujuan mencuri dan menyerang setelah aksinya diketahui.
Menurut polisi, pelaku memilih rumah korban secara acak karena terlihat paling besar di lingkungan tersebut. Saat korban dan istrinya terbangun menjelang sahur, pelaku panik dan memukul korban menggunakan linggis yang sebelumnya dipakai untuk mencongkel jendela.
“Dari fakta-fakta yang diperoleh, kami tidak menemukan kaitan dengan isu yang beredar di media sosial. Peristiwa ini murni pencurian yang disertai pembunuhan,” ujar Iman dikutip dari tempo.co.
Meski demikian, penjelasan tersebut belum sepenuhnya meredam pertanyaan publik. Sebab, sebelum meninggal dunia, Ermanto dikenal aktif mengungkap dugaan korupsi dalam pengelolaan pelabuhan yang melibatkan JICT dan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo), dengan potensi kerugian negara yang disebut mencapai Rp4,8 triliun.
Sebagai Ketua Paguyuban Pensiunan Karyawan JICT sekaligus pengamat pelabuhan, Ermanto disebut mengumpulkan sejumlah data terkait dugaan penyimpangan tersebut. Ia juga dikabarkan bekerja sama dengan Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) untuk membuka dugaan praktik kartel korupsi di sektor pelabuhan.
Dalam sejumlah pernyataan yang beredar, Ermanto bahkan disebut secara terbuka menyebut sejumlah nama yang diduga berkaitan dengan persoalan tersebut, di antaranya Rini Soewandi, Erick Thohir, Boy Thohir, hingga Patrik S. Waluyo.
Ermanto disebut berencana menyampaikan data yang dimilikinya kepada sejumlah lembaga negara. Namun rencana itu belum terlaksana ketika ia justru ditemukan tewas di rumahnya sendiri.
Di tengah kesimpulan kepolisian bahwa peristiwa tersebut merupakan pencurian yang berujung pembunuhan, sebagian kalangan menilai penyelidikan tetap perlu dilakukan secara transparan dan menyeluruh, mengingat latar belakang aktivitas korban sebelum kejadian.
Sebab, ketika seseorang yang tengah membuka dugaan korupsi bernilai triliunan rupiah meninggal secara tragis, wajar jika publik berharap kebenaran kasus ini tidak berhenti pada penjelasan yang paling sederhana.
Penulis: Tim Redaksi LPM Suara Ekonomi













































