Kementerian Keuangan Republik Indonesia (Kemenkeu) menetapkan target penerimaan sebesar Rp36 triliun dari lelang Surat Utang Negara (SUN) yang akan digelar pada kuartal kedua 2026. Langkah ini menjadi bagian strategi pemerintah dalam memenuhi kebutuhan pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Namun, peningkatan target tersebut juga menimbulkan pertanyaan terkait ketergantungan pemerintah terhadap utang sebagai sumber pembiayaan utama pembangunan.
Direktur Jenderal Pengelolaan Utang dan Risiko Keuangan Kementerian Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, menyatakan bahwa target tersebut disusun berdasarkan kebutuhan pendanaan APBN serta proyeksi minat investor, “Target Rp36 triliun dalam lelang SUN kali ini disesuaikan dengan skenario perkembangan ekonomi nasional dan global. SUN berperan sebagai instrumen penting untuk menutupi defisit anggaran dan mengalokasikan dana pada sektor-sektor prioritas seperti infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan,” ujarnya dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta.
Meski demikian, penggunaan utang sebagai instrumen utama pembiayaan kembali memunculkan kritik lama terkait keberlanjutan fiskal jangka panjang. Ketergantungan pada penerbitan SUN dinilai berpotensi meningkatkan beban bunga negara di masa mendatang jika tidak diimbangi dengan peningkatan penerimaan negara yang signifikan.
Lelang SUN akan diikuti oleh investor domestik dan internasional. Investor domestik mencakup bank umum, perusahaan asuransi, dana pensiun, serta masyarakat melalui program SUN ritel. Sementara itu, investor internasional meliputi lembaga keuangan global, dana pensiun internasional, dan institusi multilateral. Dominasi investor besar dalam pembelian SUN juga menimbulkan kekhawatiran terkait sensitivitas pasar terhadap perubahan kondisi global.

Kepala Divisi Strategi Investasi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Budi Santoso, menegaskan peran investor domestik dalam menjaga stabilitas pembiayaan negara, “Sebagai investor domestik utama, kami melihat SUN sebagai instrumen investasi yang aman dan memberikan imbal hasil yang kompetitif. Selain itu, partisipasi kami juga berkontribusi pada stabilitas sistem keuangan nasional dan mendukung pembangunan ekonomi Indonesia,” dikutip dari idx.co.id.
Lelang SUN dengan target Rp 36 triliun akan dilaksanakan pada 15 Mei 2026 di Bursa Efek Indonesia. Pada kuartal pertama 2026, pemerintah menargetkan Rp32 triliun dan berhasil menyerap Rp33,5 triliun. Meski capaian tersebut menunjukkan tingginya minat pasar, kondisi ini juga memperlihatkan bahwa pemerintah semakin bergantung pada instrumen utang untuk menutup defisit.
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Iman Rachman, menjelaskan tingginya minat investor, “Pada lelang SUN kuartal pertama, minat investor sangat tinggi dengan rasio penawaran terhadap penyerapan atau bid-to-cover ratio mencapai 2,1 kali lipat. Untuk lelang kali ini, kami memperkirakan minat akan semakin meningkat mengingat kondisi ekonomi global yang mulai menunjukkan sinyal pemulihan dan kebijakan moneter yang kondusif,” dikutip dari asatunews.co.id.
Target lelang yang meningkat sebesar 12,5 persen dibanding kuartal pertama menunjukkan kebutuhan pembiayaan pemerintah yang terus bertambah. Hal ini memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas pengelolaan anggaran serta keberlanjutan program pembangunan yang dibiayai melalui utang.
SUN menempati posisi sentral dalam strategi pembiayaan APBN. Data Kementerian Keuangan menunjukkan bahwa kontribusi SUN terhadap pembiayaan defisit APBN 2026 diperkirakan mencapai sekitar 65 persen. Kondisi ini menegaskan bahwa struktur pembiayaan negara masih sangat bergantung pada utang. Pemerintah menyatakan akan memperkuat peran investor domestik guna mengurangi ketergantungan pada dana asing. Namun, strategi ini tetap menghadapi tantangan, terutama dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan pembiayaan dan stabilitas pasar keuangan.

Menurut Bank Indonesia, minat investor terhadap SUN didukung oleh stabilitas ekonomi domestik, inflasi yang terkendali, serta kebijakan moneter yang konsisten. Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa stabilitas nilai tukar dan proyeksi pertumbuhan ekonomi menjadi faktor utama. Meski demikian, ketidakpastian global seperti kenaikan suku bunga di negara maju dan dinamika perdagangan internasional tetap menjadi risiko yang dapat memengaruhi minat investor secara tiba-tiba.
Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Mohammad Faisal, menyatakan bahwa kepercayaan investor terhadap Indonesia masih terjaga, “Indonesia telah menunjukkan rekam jejak yang baik dalam pembayaran utang, sehingga SUN dianggap sebagai instrumen yang dapat dipercaya bahkan di tengah ketidakpastian global,” ujarnya.
Para analis memperkirakan penyerapan SUN akan melampaui target dengan rasio bid-to-cover mencapai 2,2 hingga 2,5 kali. Meski menunjukkan kepercayaan pasar, kondisi ini juga mencerminkan meningkatnya ketergantungan pemerintah terhadap pembiayaan berbasis utang.
Namun demikian, ketergantungan yang terus meningkat terhadap utang negara menuntut evaluasi serius agar tidak menimbulkan beban fiskal yang lebih berat di masa depan.
Penulis: Klaris Karubaba
Editor: Abdillah













































