Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, menjadi korban penyiraman air keras oleh orang tidak dikenal (OTK) di kawasan Salemba, Jakarta Pusat, Kamis (12/3/2026) sekitar pukul 23.37 WIB.

Pihak KontraS menduga peristiwa tersebut berkaitan dengan aktivitas Andrie sebagai pembela hak asasi manusia (HAM). Insiden ini terjadi tidak lama setelah Andrie menjadi narasumber dalam podcast di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) bertajuk “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia.”

Sebelum peristiwa penyiraman terjadi, Andrie diketahui sempat menerima sejumlah panggilan telepon misterius dari nomor tidak dikenal pada 9–12 Maret 2026. Sebagian nomor tersebut diduga berkaitan dengan modus spam, penipuan, hingga tawaran pinjaman online dan layanan M-Banking.

Dilansir dari msn.com, selain panggilan telepon mencurigakan, rumah keluarga Andrie juga sempat didatangi orang tidak dikenal pada 16 Januari 2026. OTK tersebut diduga berupaya mencari informasi mengenai Andrie dan keluarganya.

Pada malam kejadian, Andrie melintas di Jalan Salemba I menggunakan sepeda motor. Saat berada di kawasan Talang, ia melihat sebuah sepeda motor yang ditumpangi dua orang melaju berlawanan arah. Ketika kedua kendaraan berpapasan, pelaku secara tiba-tiba menyiramkan cairan yang diduga air keras ke arah korban. Cairan tersebut mengenai bagian kanan tubuh Andrie, terutama pada mata, wajah, dada, dan tangan. Akibat serangan tersebut, Andrie berteriak kesakitan, menghentikan motornya, lalu terjatuh di lokasi kejadian.

Rekaman CCTV memperlihatkan dua orang tak dikenal yang diduga sebagai pelaku penyiraman air keras terhadap aktivis Andrie Yunus saat melintas menggunakan sepeda motor. (Sumber: wartakota.tribunnews.com)

Kepala Divisi Impunitas KontraS, Jane Rosalina, mengungkapkan bahwa hasil pemeriksaan medis menunjukkan Andrie mengalami luka bakar sekitar 24 persen akibat reaksi inflamasi dari cairan korosif yang mengenai wajah, mata, kedua tangan, dan dada, “Dari sejumlah luka yang dialami, kondisi paling serius terdapat pada mata kanan,” ujar Jane, dikutip dari tribunnews.com, Sabtu.

Ia menambahkan bahwa saat ini korban telah mendapatkan penanganan khusus dari dokter spesialis bedah mata.

Sementara itu, Kapolda Metro Jaya, Asep Edi Suheri, menyatakan pihaknya masih melakukan penyelidikan dan pendalaman terkait kasus tersebut. Menurutnya, penyidik masih bekerja untuk mengungkap pelaku di balik serangan tersebut.Berdasarkan pemeriksaan awal, tidak ada barang milik korban yang hilang atau dirampas. Kondisi ini memperkuat dugaan bahwa insiden tersebut bukan sekadar tindak kriminal biasa, melainkan serangan yang menyasar korban secara langsung.

Peristiwa ini pun menambah daftar panjang ancaman terhadap pembela HAM di Indonesia. Serangan terhadap aktivis yang menyuarakan kritik terhadap kebijakan negara dinilai menjadi sinyal mengkhawatirkan bagi kondisi demokrasi dan kebebasan sipil.

Ketika kekerasan digunakan untuk membungkam suara kritis, ruang aman bagi pembela HAM dan masyarakat sipil semakin menyempit, menandakan bahwa praktik demokrasi di Indonesia sedang menghadapi tantangan yang serius.

Penulis: Tim Redaksi LPM Suara Ekonomi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini