Kasus infeksi virus Nipah kembali menjadi perhatian di India setelah otoritas kesehatan setempat mengonfirmasi sejumlah pasien terinfeksi di wilayah Bengala Barat dan Kerala sejak Desember 2025. Temuan ini memicu peningkatan kewaspadaan, karena virus Nipah dikenal memiliki tingkat kematian yang tinggi serta berpotensi menimbulkan wabah serius apabila tidak ditangani secara cepat dan terkoordinasi.

Virus Nipah merupakan penyakit zoonotik yang dapat menular dari hewan ke manusia maupun antarmanusia. Penularan umumnya terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita atau konsumsi makanan yang terkontaminasi. Kelelawar buah diketahui sebagai inang alami virus ini. Karena gejala awalnya menyerupai penyakit umum, infeksi Nipah kerap sulit terdeteksi sejak dini, sehingga meningkatkan risiko terjadinya kondisi berat pada pasien.

Dilansir dari kompas.com, pemerintah India saat ini berupaya menahan laju penyebaran setelah sejumlah kasus terkonfirmasi, termasuk pada tenaga kesehatan. Hampir 100 orang dilaporkan menjalani karantina, sementara beberapa pasien harus mendapatkan perawatan intensif akibat kondisi yang memburuk dalam waktu singkat. World Health Organization (WHO) menilai wabah ini masih bersifat lokal, namun tetap berisiko tinggi mengingat kemampuan penularan antarmanusia serta belum tersedianya vaksin maupun pengobatan khusus.

Gejala infeksi virus Nipah umumnya muncul dalam rentang 4 hingga 14 hari setelah paparan. Pada tahap awal, penderita dapat mengalami demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, mual, muntah, serta gangguan pernapasan. Dalam kasus tertentu, infeksi dapat berkembang menjadi radang otak yang ditandai dengan kebingungan, kejang, penurunan kesadaran, hingga koma. Perkembangan penyakit yang cepat menjadikan virus ini berisiko tinggi menyebabkan kematian.

Evakuasi pasien di tengah kewaspadaan virus Nipah. (Sumber: cnbcindonesia.com)

“Hingga saat ini belum ada ‘senjata’ berupa vaksin yang bisa digunakan untuk mencegah virus Nipah. Kemudian hingga saat ini juga belum ada obat spesifik yang bisa digunakan untuk pasien yang sudah terinfeksi virus Nipah,” ujar Dicky Budiman dikutip dari health.detik.com.

Kondisi tersebut membuat penanganan medis terbatas pada perawatan suportif guna mengendalikan gejala dan mencegah komplikasi.

Merespons situasi tersebut, Kementerian Kesehatan Republic Indonesia mengeluarkan peringatan dini dan imbauan kepada masyarakat. Imbauan tersebut antara lain tidak mengonsumsi buah yang menunjukkan bekas gigitan kelelawar, mencuci serta mengupas buah sebelum dikonsumsi, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, mematuhi protokol kesehatan saat bepergian ke India atau negara terjangkit, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala virus Nipah dalam waktu 14 hari setelah kepulangan.

Perkembangan kasus di India juga mendorong negara-negara lain di kawasan Asia untuk meningkatkan kewaspadaan. Sejumlah negara dilaporkan memperketat pemeriksaan kesehatan di bandara, khususnya bagi pelaku perjalanan dari India, sebagai langkah pencegahan penyebaran lintas negara. Melalui deteksi dini, keterbukaan informasi, dan kerja sama regional, penyebaran virus Nipah diharapkan dapat ditekan sebelum berkembang menjadi krisis kesehatan yang lebih luas.

Penulis: Tim Redaksi LPM Suara Ekonomi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini