Ketika kita mendengar istilah toxic relationship, banyak orang langsung membayangkan kekerasan fisik atau pertengkaran hebat. Padahal, hubungan tidak sehat sering kali hadir dalam bentuk yang jauh lebih halus. Ia bisa muncul lewat pesan yang sudah dibaca tetapi diabaikan berjam-jam, lalu tiba-tiba dibalas seolah tidak terjadi apa-apa. Atau melalui kalimat, “kamu terlalu sensitif,” setiap kali seseorang mencoba mengungkapkan perasaannya.
Bentuknya sangat beragam, mulai dari kata-kata merendahkan, gaslighting, hingga pola permintaan maaf yang terus berulang tanpa perubahan nyata. Meski tidak meninggalkan luka fisik, dampaknya terhadap kesehatan mental bisa sama seriusnya. Banyak orang bahkan tidak sadar bahwa mereka sedang berada dalam toxic relationship, tidak sedikit pula yang sebenarnya sudah sadar, tetapi tetap memilih bertahan. Hubungan itu terasa melelahkan, namun juga sulit dilepaskan. Lalu, mengapa hal ini bisa terjadi?
Salah satunya disebabkan oleh kondisi psikologis yang disebut denial. Dalam fase ini, seseorang cenderung menormalisasi perilaku pasangannya melalui berbagai pembenaran. Seperti kalimat “dia lagi stres saja,” “nanti juga berubah,” atau “dia sayang, cuma caranya saja yang salah,” menjadi alasan untuk menunda pengakuan bahwa hubungan tersebut melukai. Denial mungkin mampu meredam rasa sakit dalam jangka pendek, tetapi justru memperpanjang luka dalam jangka panjang.

Toxic relationship juga kerap menciptakan ketergantungan emosional melalui pola yang membingungkan. Pasangan yang manipulatif pandai mencampur perlakuan menyakitkan dengan momen manis yang datang sesekali. Hari ini diabaikan, keesokan harinya diberi perhatian berlebihan. Pola ini membuat korban terus berharap, bahkan merasa bersalah ketika keinginan untuk pergi mulai muncul. Perlahan, kepercayaan diri terkikis hingga muncul keyakinan bahwa diri sendiri tidak cukup baik, atau tidak akan ada yang mau menerima.
Tekanan sosial juga turut memperkuat jeratan tersebut. Di tengah linimasa media sosial yang dipenuhi couple goals, status “sendirian” kerap dianggap sebagai kegagalan. Ketakutan terhadap penilaian orang lain membuat banyak orang memilih bertahan dalam hubungan yang jelas tidak sehat. Belum lagi waktu, energi, dan emosi yang sudah terlanjur diinvestasikan terasa sayang untuk dilepaskan begitu saja.
Menariknya, Generasi Z yang lebih paham soal kesehatan mental pun tidak sepenuhnya kebal. Mengetahui istilah red flags bukan berarti otomatis mampu bertindak tegas. Menyadari bahwa sebuah hubungan bersifat toxic tidak selalu sejalan dengan keberanian untuk meninggalkannya. Karena itu, nasihat “tinggalkan saja” sering kali terdengar terlalu sederhana. Proses keluar dari hubungan tidak sehat melibatkan aspek emosional, psikologis, bahkan ekonomi yang kompleks. Yang dibutuhkan kini adalah empati, dukungan nyata dari lingkungan, serta ruang aman untuk pulih.
Pada akhirnya, tidak ada cinta yang seharusnya membuat seseorang kehilangan dirinya sendiri. Memilih pergi dari toxic relationship bukan tanda gagal dalam bercinta, melainkan keberanian untuk menjaga kesehatan mental dan menghargai diri sendiri.
Penulis: Tim Redaksi LPM Suara Ekonomi














































