Jakarta – Suara Ekonomi

Mahasiswa Universitas Pancasila (UP) telah menjalani perkuliahan secara daring sejak 16 Maret 2020. Ini merupakan imbas dari adanya wabah Corona Virus Disease 2019 atau yang kerap disebut Covid-19. Sudah terhitung tiga bulan lebih seluruh mahasiswa belajar dari rumah.

Tim Pelatihan dan Pengembangan dari Lembaga Pers Mahasiswa Suara Ekonomi, telah melakukan survei mengenai tingkat kepuasan mahasiswa terhadap pelaksanaan kuliah online. Sebanyak 251 responden dalam pengisian kuesioner yang telah disebar kepada tujuh fakultas. Mulai dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Hukum, Psikologi, Teknik, Ilmu komunikasi, Parawisata, dan Farmasi.

Kuliah Online

Kuesioner ini menunjukan hasil yang kurang baik atas tingkat kepuasan mahasiswa terhadap pelaksanaan kuliah online. Sebanyak 88,8% menyatakan kuliah online ini belum efektif. Meskipun 54,6% di antaranya menyatakan sudah memiliki fasilitas yang memadai untuk kuliah online.

Sebanyak 76,5 % merasa kesulitan dalam pembelajaran online. Berikut beberapa hambatan yang dialami mahasiswa saat pembelajaran online :

  • Jaringan yang tidak stabil
  • Sebagian dosen yang hanya memberikan tugas tanpa adanya penjelasan materi
  • Sulit untuk bertanya dikala ada materi yang tidak di mengerti
  • Beberapa dosen mengganti jam pembelajaran tanpa adanya diskusi dengan mahasiswa
  • Materi pembelajaran yang disampaikan melalui video conference kurang jelas dan sulit dimengerti

Lembaga Pengembangan, Pendidikan, Pembelajaran (LP3) UP mengatakan, bahwa kuliah online ini dibebaskan kepada masing-masing dosen asalkan bisa dirasa nyaman dan mudah. “Kuliah online bisa dilakukan melalui apa saja yang menurut para dosen lebih nyaman dan mudah pengajarannya. Diserahkan ke para dosen sendiri mengatur ingin menggunakan kuliah online,” ujar perwakilan LP3 UP. Lembaga juga meluruskan perihal pendidikan jarak jauh (PJJ). Menurutnya saat ini UP belum sampai di titik PJJ melainkan hanya sebatas kuliah online. “Kalau kita kuliah masih ada tatap muka, dan selama Covid-19 ini adalah situasi berbeda. Situasi darurat yang membuat kita harus belajar secara online. Jadi harus dibedakan PJJ dengan situasi kuliah online karena keadaan darurat. Saat ini UP menjalankan tipe Blended/Hybrid (e-learning), mengkombinasikan cara online dan tatap muka,” tambahnya.

Sebanyak 53,8% menyatakan materi yang didapat sama dengan kuliah tatap muka. 54,2% menyatakan mahasiswa tidak aktif berdiskusi saat kuliah online. Sedangkan, 63,7% menyatakan tidak memahami materi selama kuliah online.

Berikut beberapa alasan mahasiswa tidak dapat memahami materi:

  • Beberapa mahasiswa mengeluhkan hanya beberapa dosen yang mau untuk melakukan video conference
  • Waktu yang singkat dalam penggunaan aplikasi pembelajaran online menyebabkan terbatasnya penyampaian materi dan ruang diskusi
  • Ketika sedang kuliah online yang mengharuskan video conference, jaringan internet yang tidak stabil sehingga penyampaian materi oleh dosen kurang jelas
  • Ada materi yang tidak cukup dijelaskan hanya melalui powerpoint saja, harus dengan praktikum

Sebanyak 52,6% menyatakan waktu yang diberikan dalam pembelajaran online sudah sesuai. Kemudian sebanyak 51,8% menyatakan dosen berperan aktif saat kuliah online. Metode pembelajaran yang digunakan ketika kuliah online di antaranya sebagai berikut :

  • Videocall grup = 21,1%
  • Hanya berupa tugas = 57%
  • Lainnya = 21,9% ( keduanya, WA grup, google classroom)

Praktikum

Dalam hal praktikum, sebanyak 36% menyatakan tetap melaksanakan praktikum secara online. Sebanyak 40,2% merasa kuliah online menghambat kegiatan praktikum. Dan sebanyak 60,7% merasa kesulitan memahami penjelasan dosen saat praktikum online.

Para mahasiswa juga memiliki saran untuk pembelajaran online kedepannya, diantaranya sebagai berikut:

  • Peralihan aplikasi yang lebih baik seperti google classroom atau google meeting, karena lebih menghemat kuota
  • Dosen harus lebih aktif lagi dalam menyampaikan materi, bukan hanya tugas
  • Alangkah baiknya setiap ada tugas, dosen memberikan jawaban yang benarnya sebagai bahan evaluasi tugas mahasiswa
  • Pembelajaran yang menggunakan video conference hendaknya disertai dengan materi/powerpoint
  • Alangkah baiknya universitas memberikan fasilitas kepada mahasiswa yang memiliki ekonomi yang kurang baik
  • Sebaiknya tugas kelompok dialihkan ke tugas individu, dikarenakan beberapa mahasiswa merasa terbebani dengan anggota team yang tidak kerja di team tersebut

UTS Online

Sebanyak 58,6% mahasiswa menyukai UTS secara online, 31,1% merasa soal ujian yang diberikan saat UTS online lebih mudah. Dan 68,9% merasa adil dengan tipe soal ujian yang berbeda tiap dosen.

Sebagian mahasiswa menyatakan tidak adil dikarenakan jumlah soal dan tingkat kesulitan yang tidak merata. Dikarenakan ada beberapa mata kuliah yang soal ujiannya dibuat oleh dosen pribadi, bukan koordinator soal. Selain itu,  jumlah soal pada UTS ada yang sangat banyak dan lebih tampak sulit. Sedangkan, ada juga soal UTS yang sedikit dan tampak mudah.

Sebanyak 85,3% merasa waktu pelaksanaan ujian sudah sesuai, dan 48,2% merasa sudah efektif. Di samping itu, terdapat beberapa hambatan yang terjadi ketika UTS online, di antaranya :

  • Server SIA yang terkadang down, sehingga banyak mahasiswa yang terlambat untuk mengumpulkan lembar ujian
  • Ada beberapa dosen yang memberikan soal ujian terlambat sehingga mengganggu waktu pengerjaan ujian.
  • Fasilitas yang kurang memadai seperti laptop/komputer
  • Website CBTFFUP yang terkadang error menyebabkan jadwal ujian menjadi mundur
  • Soal terlalu banyak dan panjang sehingga cukup memakan waktu untuk membacanya
  • Terburu-buru mengerjakan dengan waktu yang sedikit karena harus mengumpulkan tepat di waktu yang di tentukan.
  • Adanya jadwal ujian yang bentrok

Bimbingan Online

Sebanyak 68,1% mahasiswa merasa kesulitan melakukan bimbingan secara online. 57% merasa kesulitan mencari referensi/data penunjang skripsi. Hambatan ketika bimbingan online di antaranya sebagai berikut :

  • Data penunjang/referensi untuk skripsi yang kurang
  • Beberapa dosen menunda menjawab pertanyaan mahasiswa baik dari WA/email
  • Tidak bisa mengambil sampel ke beberapa tempat karena banyak tempat yang ditutup akibat pandemi covid-19

Saran bimbingan online kedepannya ialah diharapkan dosen meluangkan waktunya untuk menjawab pertanyaan  mahasiswa tingkat akhir.

Beberapa hal tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan kuliah online ini masih dikatakan belum sempurna. Masih terdapat beberapa kendala dan hambatan dalam pelaksanaannya. Pihak Universitas, para dosen, dan juga mahasiswa harus bersama-sama saling mengisi akan permasalahan yang terjadi. Saling memahami demi terciptanya persatuan dalam memajukan pendidikan di saat kondisi yang tidak memungkinkan.

Reporter : Anwar Afudy

Editor : Dinda Nadya

LEAVE A REPLY