Jakarta – Suara Ekonomi

Maraknya kejahatan di era modern membuat ilmu bela diri banyak ditekuni belakangan ini. Jika dulu kebanyakan pria yang terjun mempelajarinya, kini kaum wanita pun tidak sedikit yang mendedikasikan dirinya untuk olahraga tersebut. Salah satunya Melinda, seorang atlet Taekwondo yang juga aktif sebagai mahasiswa jurusan S1 Akuntansi Universitas Pancasila.

Melinda mulai mengenal Taekwondo melalui kegiatan Ekstrakulikuler yang diikutinya saat SMP di Jambi. Saat itu ia belum yakin dengan kemampuan bela dirinya. Tetapi seiring berjalannya waktu, ia terus mendalami seni tersebut dan melanjutkannya saat memasuki Sekolah Menengah Atas. Keahliannya pun semakin terasah hingga ia memutuskan untuk menjadi Atlet Taekwondo.

Saat duduk di bangku SMA, beberapa kejuaraan telah diikutinya, seperti Jambi Taekwondo Festival tahun 2013 dan meraih medali perak, Kejuaraan Daerah (Kejurda) dan Tebo Open Tournament (Bupati Cup 2013) meraih medali perak, Jambi Taekwondo 2014 mendapat perunggu, juga peserta Kontingen Bungo di Pekan Olahraga Provinsi Jambi ke XXI (Porprov Jambi XXI).

Dari banyaknya kejuaraan yang ia ikuti, belum pernah sekalipun ia mendapatkan emas. Meskipun begitu, gadis berhijab ini tidak berkecil hati. Ia sadar bahwa hasil tidak selalu sesuai dengan harapan. Ia juga mengatakan bahwa hasil yang ia dapatkan bergantung dengan latihannya selama ini. Seperti kata pepatah, apa yang kau tanam, maka itu yang akan kau tuai.

“Setiap pertandingan itu butuh usaha, karena kita punya target. Aku selalu menargetkan emas, tapi memang hasil tidak sesuai harapan. Hasil yang aku dapatkan itu cerminan dari latihan yang aku jalani. Dapat medali perak atau perunggu berarti saat latihan masih belum maksimal,” ujar gadis kelahiran 18 Desember 1997 ini.

Melinda Wulandari tampil dalam acara PKKMB 2018

Saat ini Melinda berkuliah di Universitas Pancasila jurusan S1 Akuntansi. Ia menceritakan suka dan duka bagaimana kesehariannya sebagai mahasiswa yang juga aktif dalam kegiatan Taekwondo. Salah satunya harus bisa membagi waktu untuk kegiatan akademik dan kegiatan lainnya.  Untuk persiapan pertandingan saja memakan waktu kurang lebih 3 bulan. Hal ini pun sempat membuat kegiatan perkuliahannya terbengkalai.

Terlepas dari itu semua, ia juga mengatakan telah mendapat banyak pelajaran dan pengalaman yang berharga. “Dari sini saya dapat banyak pengalaman baru, kondisi tubuh juga lebih fit, berat badan terjaga, tidak mudah lelah, saya juga mendapat penghargaan dari kampus,” terangnya.

Semasa kuliah, ia kembali mengikuti berbagai kejuaraan, seperti Piala Gubernur DKI Jakarta Kelas Senior Bantam Putri 2016 dan meraih medali perunggu, The 14th FEB UI CUP 2016 Kelas Senior Bantam Putri meraih perunggu, Festival Nasional SETU CUP 2017 Kelas Senior Feather Putri meraih perunggu, The 15th FEB UI CUP Kelas Senior Feather Putri 2017 meraih medali perak, Prasetya Mulya Olympic 2018 Kelas Senior Feather Putri meraih perunggu dan saat MAKZOM CUP 2018 Kelas Senior 62 kg ia berhasil meraih medali emas untuk pertama kalinya.

Prinsip wanita berusia 21 tahun ini, yaitu jika ingin mencapai target kuncinya adalah usaha, ikhlas dan berdoa. Apapun hasilnya yang terpenting totalitas dalam berusaha, dan hasilnya akan mengikuti. Peran orangtua dalam memberikan dukungan juga sangat berpengaruh dalam karirnya. Berkat saran dan masukan dari orangtuanya, ia berani untuk memulai mengikuti seni bela diri. Hingga akhirnya memutuskan menjalani kehidupannya sebagai atlet Taekwondo sampai saat ini.

Reporter: Anita Fauziyyah Sari dan Andini Ghazlina

Editor: Anita Permata S

LEAVE A REPLY